Wednesday, August 27, 2014

SSOML #2 : Hanabi



Kala cahaya memudar. Kala langit menghitam. Kala gemuruh tawa bahagia berubah menjadi renungan kekaguman. Setitik cahaya kecil meluncur dengan percaya dirinya, membelah pekatnya langit malam festival musim panas, dan meledak menghasilkan kilauan cahaya  warna-warni cantik yang membelalakan mata siapapun yang melihatnya. Kembang Api, Hanabi.





Malam itu setelah seharian bersenang-senang di sebuah festival kebudayaan Jepang, saya untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang sederhana namun terasa sangat luar biasa. Sesuatu yang sebenarnya adalah suatu hal yang sering kita jumpai di berbagai momen perayaan. Namun entah mengapa baru kali ini saya menikmatinya seperti seorang anak kecil yang baru saja menggenggam dunia ditangan kanannya. Ya Kembang Api (Hanabi). 

Malam itu dipenghujung lelah dan kegembiraan semua mata pengunjung memantulkan bayangan cahaya indah yang meledak-ledak di angkasa dan diikuti dengan mengembangnya senyum di pipi. Entah apa yang mereka pikirkan dalam senyumnya. Entah bagaimana cara mereka menikmatinya. Entah bagaimana perasaan mereka saat melihatnya. Bahagiakah ? Terkagunm-kagumkah ? Puaskah ? Atau bahkan mungkin biasa sajakah ? Tetapi saya yakin, bukan hanya saya seorang yang menjadi senorak itu di sana.

Salah seorang teman saya berkata “Semua orang tahu bahwa hanabi itu puncak dari sebuah jfest. Tetapi yang tidak semua orang bisa rasakan adalah, sebenarnya hanabi juga merupakan puncak perjuangan, puncak kerja keras, puncak kepuasan, dan puncak kebahagiaan dari orang-orang yang bekerja keras mewujudkan event itu. Jadi saat kami melihat meledaknya kambang api di puncak event kami, saat itu kami semua sudah pasti menangis”.

Man... Percaya atau tidak, saya juga seolah merasakan hal itu, walau tidak dalam level yang mereka rasakan. Walaupun hanya sebagai penikmat, saya merasa sangat bahagia dan dibuat tak berdaya menahan keindahannya. Dan saya juga ingin merasakan apa yang mereka rasakan. Merasakan perasaan bahagia buah jerih payah mereka. Dan menangis bersama menikmati manisnya buah tersebut dalam syukur. 

Malam itu saya begitu bahagia. Malam itu saya tidak henti-hentinya menumpuk senyum di wajah saya. Malam itu entah mengapa otak dan lidah saya menemui keterbatasan dalam  mengolah dan mengucap kata, saat itu entah mengapa kata-kata yang saya ketahui dan keluar dari mulut saya hanya kata-kata pujian atas kekaguman saya. Malam itu saya hampir menangis. Dan saya tidak butuh alasan apapun untuk menjelaskan ‘mengapa saya bisa merasa sebahagia itu’. Apapun alasanya, satu hal yang pasti malam itu saya merasa sangat-sangat bahagia dan bersyukur karena dapat merasakan kebahagiaan ini.

Subhanallah.

Semoga kalian juga bisa merasakan hal-hal sederhana yang begitu membahagiakan seperti ini. Sering kali kebahagiaan dari sesuatu yang sederhana terasa jauh lebih berharga. Karena sesungguhnya kebahagiaan tidaklah selalu berasal dari sesuatu yang besar, tetapi kebahagiaan yang manis adalah saat kita dapat selalu melihat dan merasakan kebahagian dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Ya Kebahadiaan dalam Syukur.

@rohadidavid

THANKS.

No comments:

Post a Comment